Senin, 18 Mei 2009

Tugas INISIASI 4

Tugas Inisiasi 4

Komputer dan Media Pembelajaran di SD

1. Penggunaan multi media dlam pembelajaran artinya wahana penyalur pesan atau informasi belajar dimana menekankan pada penggunaan berbagai media secara lengkap. Misalkan : suara, animasi. Video, grafis maupun film.

2. Media audio visual gerak ialah media yang akan menimbulkan suara, gambar dan gerak, seperti: film kartun, televisi, animasi, dll.

Media audio visual diam ialah media yang akan menimbulkan efek suara dan gambar tidak bergerak, seperti: film rangkai suara, sound slide, tulisan,dll.

Mudio semi gerak ialah media yang menimbulkan efek suara yang seakan-akan bergerak, seperti: tulisan jauh bersuara.

Media visual bergerak ialah media yang menimbulkan gambar atau sejenisnya akan tetapi tidak menimbulkan suara, seperti: film pantomin, film bisu, dll.

Media visual diam ialah media yang hanya dapat dilihat dan tidak bergerak, seperti: foto, halaman cetak, dll.

Media audio ialah media yang hanya dapat didengar dan menimbulkan suara, seperti: radio, mp3 player, telepon, dll.

Media cetak ialah media yang hanya dapat dilihat dan tidak bergerak, seperti: buku, novel, dll.

3. pertama tahap devide yaitu merumuskan tujuan, rancangan media apa yang dikembangkan, beberapa persiapan awal dalam perancangan media yang menyangkut bahan, materi, dana serta aspek perancangan lainnya. Kedua, tahap develop yaitu fase pengembangan, dlam fase ini sudah mulai proses pembuatan media yang akan dikembangkan, sesuai dengan fase pertama. Ketiga, Evaluasi yaitu fase terakhir untuk menilai media yang sudah dikembangkan atau di buat, setelah melalui tahap uji coba, revisi, kajian dengan pihak lain.

4. kelebihan dan kekurangan dari media grafis antara lain:

Kelebihan:

a. Sifatnya konkrit, lebih realistik dibandingkan dengan media verbal. Hal ini dikarenakan seseorang lebih cepat menerima suatu informasi dengan melihat langsung dibandingkan suara.

b. Dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja, baik untuk usia muda maupun tua.

c. Murah harganya dan tidak memerlukan peralatan khusus dalam penyampaiannya.

Kekurangan:

a. Gambar/foto hanya menekankan pada persepsi indera mata. Hal ini tentunya belum lengkap bagi seseorang untuk menerima informasi secara jelas.

b. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Tentu saja gambar atau foto terbatas pada ukuran yang ada.

5. cara mengembangkan media OHP di sekolah ialah dengan membiasakan para siswa untuk membuat Over head Transparansi ketika kerja kelompok, dan siswa disuruh mempresentasikannya lewat Over head Projector. Ini ditujukan untuk memvariasikan media pembelajaran yang selama ini masih terfokus pada papan tulis dan LKS. Selain itu, OHP juga akan membiasakan anak berbicara langsung didepan teman-teman sekelasnya.

perbedaan antara OHP dengan OHT ialah terlihat dari bentuk dan fungsi benda tersebut, OHP kepanjangan dari Over Head Projector yaitu alat untuk pemproyeksikan atau menampilkan transparansi yang berada dibadan/kepala OHP kedinding, sedangkan OHT atau Over Head Transparansi ialah kertas plastik yang transparan yang diberi tulisan atau gambar dengan tujuan untuk menampilkan atau diproyeksikan melalui OHP kedinding.

keterkaitan antara kedua istilah tersebut sangatlah jelas, OHP adalah alat untuk menampilkan, sedangkan OHT adalah alat yang ingin ditampilkan. Jika OHP tidak ada, otomatis OHT tidak bisa ditampilkan, demikian juga sebaliknya.

6. media visual diam merupakan media penyaluran pesan dari pemberi ke penerima pesan, biasanya media ini disalurkan dalam bentuk tulisan, huruf-huruf, gambar-gambar dan simbol-simbol yang mengandung maksud tertentu.

kelebihan dari media ini adalah antara lain:

a. Sipatnya konkrit, lebih realistik dibandingkan dengan media verbal. Hal ini dikarenakan seseorang lebih cepat menerima suatu informasi dengan melihat langsung dibandingkan suara.

b. Dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja, baik untuk usia muda maupun tua.

c. Murah harganya dan tidak memerlukan peralatan khusus dalam penyampaiannya

kekurangannya dari media ini adalah antara lain:

a. Gambar/foto hanya menekankan pada persepsi indera mata. Hal ini tentunya belum lengkap bagi seseorang untuk menerima informasi secara jelas.

b. Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Tentu saja gambar atau foto terbatas pada ukuran yang ada.

c. Banyak bentuk huruf dan simbol yang kurang dimengerti oleh anak.

Jumat, 08 Mei 2009

Membangun Komunikasi berbasis ICT

Membangun Komunikasi Berbasis ICT

(Information and Communication Tecnology)

Oleh : Sain Widianto K*

Ledakan informasi merupakan pertanda dari peluang dan tantangan yang akan dihadapi manusia di masa depan. Perkembangan volume informasi yang dicetuskan, dipindahkan, dan diterima akan terus dan semakin menggelembung. Seiring dengan itu, maka informasi pun meningkat pula. Pada masa itu manusia akan hidup dalam suatu tatanan masyarakat baru, yakni masyarakat informasi.

Informasi memerlukan saluran untuk berpindah. Saluran tersebut adalah saluran komunikasi. Teknologi telah siap menghadapi kebutuhan tersebut, dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara pengirim dan penerima yang berjauhan dalam waktu singkat. Akibat batas – batas ruang dan waktu yang semakin kabur.

Menurut Siagian (2002 :16) salah satu perkembangan pesat pada era reformasi dewasa ini, adalah terjadinya “perkawinan” antara teknologi komunikasi dan teknologi informasi. Akibatnya makin banyak saluran penyampaian informasi dari satu pihak ke pihak lain. Sejak ditemukannya komputer oleh Howard Aiken menurut Aldoni (1998) perkembangannya semakin hari semakin canggih. Bila pada mulanya komputer berukuran besar hanya dapat digunakan sebagai alat hitung, sekarang komputer berukuran kecil dapat dipakai untuk berbagai keperluan.

Fungsi komputer telah berubah seiring perkembangannnya. Bila pada mulanya komputer hanya dapat memindahkan informasi yang diolah ke media cetak atau bahkan hanya ke layar monitornya sendiri, sekarang komputer dapat dipakai untuk memindahkan sejumlah besar informasi, menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat. Semua itu karena kecanggihan komputer merupakan alat yang penting “menumpang” kecanggihan alat komunikasi yang lain.

ICT Dalam Dunia Pendidikan

Kemajuan teknologi modern khususnya yang berkaitan dengan kemajuan komputer, akhir-akhir ini merupakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembaharuan tidak hanya dalam sektor bisnis, telekomunikasi, tetapi juga dalam dunia pendidikan. Dalam bidang pendidikan, pemerintah dan masyarakat umumnya telah memberi perhatian yang mendalam tentang kemajuan teknologi modern ini. Sebab sangat disadari, bahwa peranan dan fungsi teknologi dalam kemajuan dunia pendidikan perlu dikembangkan. Teknologi dapat membantu mencapai sasaran dan tujuan pendidikan sehingga proses belajar mengajar akan terkesan dan bermakna.

Keseriusan pemerintah terutama dalam bidang pendidikan ini telah menghasilkan terobosan baru. Untuk meningkatkan kualitas dan kualifikasi guru sebagai salah satu pelaku dalam dunia pendidikan, khususnya guru sekolah dasar. Maka pada tanggal 5 Januari 2007 konsorsium perguruan tinggi bersama Direktorat Jendral PMPTK, Direkrorat Jendral Pendidikan Tinggi dan SEAMOLEC membuka program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) S1 PGSD yang berbasis ICT. Sampai saat ini jumlah penyelenggara PJJ ICT S1 PGSD ini mencapai 23 perguruan tinggi se-Indonesia yaitu Universitas Sriwijaya, Universitas Katholik Atmajaya Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Tanjung Pura, Universitas Nusa Cendana, Universitas Negeri Makassar, Universitas Cendrawasih, Universitas Muhammadiyah Makasar, Universitas Prof. Dr. HAMKA Jakarta, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Jember, Universitas Lampung, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Mataram, Universitas Negeri Semarang, Universitas Kristen Satya Wacana, Universitas Sebelas Maret dan Universitas Haluoleo. Proses pengembangan bahan ajarnya di Fasilitasi oleh SIAMOLEC**.

Dasar hukum dari Program PJJ ICT S1 PGSD ini adalah UU Sisdiknas 2003, Undang - Undang Guru dan Dosen no.14/2005, PP SNP no.19/2005, keputusan Menteri No. 107/2001 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh, Keputusan Dirjen Dikti No. 108/2001 tentang pembukaan program studi/jurusan (selanjutnya sebagai Juknis).

Sistem pendidikan yang digunakan adalah model hybrid (campuran) dimana 30 – 79 % beban belajar dan interaksi melalui jaringan teknologi informasi dan komunikasi. Ragam bahan ajar terdiri dari bahan ajar cetak, nahan ajar audio visual, bahan ajar berbasis komputer (CIA), bahan ajar berbasis jaringan (web-based). Sedangkan ragam interaksi dilakukan dengan cara tatap muka residential, tatap muka tutor kunjung, interaksi online (sinkronus dan asionkronus) dan videoconference.

Dari paparan contoh di atas dapat kita telaah bahwa proses penyampaian Informasi hampir 80% menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Peranan teknologi informasi dan komunikasi para era saat ini dipandang perlu dikembangkan. Tidak hanya untuk kalangan mahasiswa PJJ S1 PGSD saja tetapi mahasiswa di luar program tersebut setidaknya dapat memanfaatkan komunikasi Berbasis ICT sebagai penunjang kebutuhannnya. Dalam hal ini dibutuhkan kemampuan (skill) yang terampil dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Sehingga mahasiswa calon guru terutama guru sekolah dasar memiliki kemampuan lebih.

Membangun komunikasi berbasis ICT bisa dilakukan secara sederhana. Perkembangan teknologi komunikasi saat ini sudah mampu menyiapkan kebutuhan tersebut. Melalui ponsel sederhana saja dengan fasilitas yang menunjang penerapan ICT juga dapat dilakukan. Hal yang umum kita jumpai dan sering digunakan dalam berkomunikasi berbasis ICT misalnya e-mail, friendster, facebook, wordpress, blogging.

Selain dalam dunia pendidikan menerapan ICT juga digunakan pada instalasi pemerintahan baik dari tingkat pemerintahan pada tingkat daerah sampai pada tingkat pusat. Fungsinya yaitu sebagai akses komunikasi sehingga apa yang menjadi kebutuhan dapat tersampaikan dengan cepat sekalipun dengan jarak yang jauh. Di samping itu penggunaan ICT pada lembaga penyalur informasi seperti majalah, surat kabar, koran bahkan stasiun televisi menggunakannya sebagai akses untuk mempercepat Informasi. Sehingga informasi yang diperoleh dapat dengan cepat didengar dan diketahui oleh masyarakat luas.

Pentingnya menerapan ICT harus diimbangi pula dengan keahlian menggunakannya. Dalam hal ini diperlukan keterampilan (skil) yang cukup bagi penggunannya. Dengan demikian maka sangat penting penggunaan komunikasi yang berbasis ICT. Oleh karena itu sudah saatnya kita membangun komunikasi tanpa batas, cepat tepat dan akurat yang mampu diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimanapun berada.


* Sain Widianto K, Mahasiswa Program PJJ ICT SI PGSD Universitas Jember.

** SEAMEO SEAMOLEC adalah sebuah institusi yang bernaung dibawah Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) atau Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se Asia Tenggara yang bertanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan terbuka dan pendidikan jarak jauh di Asia Tenggara. SEAMOLEC berpusat di Indonesia dan bekerjsama dengan Departemen Pendidikan Nasional, khususnya institusi yang menyelenggarakan PJJ maupun institusai pendukung program.

Selasa, 21 April 2009

Perbedaan kurikulum 1994 dengan 2004

A S P E K

KURIKULUM 1994

KURIKULUM 2004

· PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Semua aspek kurikulum ditentukan oleh Departemen (Pusat)

Pembagian wewenang dalam menentukan kurikulum

· PUSAT PERHATIAN

Penyampaian materi pelajaran oleh guru

Kompetensi dasar yang dikuasai siswa

· PROSES

Teaching:

berpusat pada guru , metoda monoton, guru sumber ilmu utama

Learning:

berpusat pada siswa, metoda bervariasi, guru sebagai fasilitator

· HASIL PENDIDIKAN

Tekanan berlebihan pada aspek kognitif

Menekankan pada keutuhan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik

· EVALUASI

Acuan norma dan tes obyektif

Acuan kriteria, tes, dan portofolio

perbedaan kurikulum 2004 dan kurikulum 2006

Banyak kalangan, termasuk aparat Depdiknas dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota membuatstatementbahwa Kurikulum 2004 (atau KBK) tidak terlalu jauh berbeda dengan Kurikulum 2006 yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan baru ditetapkan pemberlakuannya oleh Mendiknas melalui Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tanggal 2 Juni 2006. Saya tidak tahu, apakah penyataan mereka itu dimaksudkan untuk “menghibur guru” agar tidak resah menghadapi perubahan kurikulum ini. Mengingat Kurikulum 2004 ini masih dalam taraf ujicoba yang lebih luas sejak tahun pembelajaran 2004/2005 dan belum semua sekolah sudah menerapkan secara utuh Kurikulum 2004. Namun apa daya, kini sudah dimunculkan kurikulum baru, Kurikulum 2006. Sehingga muncullahstatement yang “menghibur” tersebut.

Hal ini adalah ironis, karena menunjukkan pemahaman yang sangat dangkal mereka terhadap Kurikulum 2006 tersebut. Saya menduga mereka hanya “mengulang-ulang” pernyataan dari BSNP, aparat Pusat Kurikulum, Pejabat Depdiknas yang bermaksud meredam agar Kurikulum 2006 tidak mendapat tentangan dari ujung tombak pendidikan : guru dan sekolah, atau gejolak yang meresahkan masyarakat dan dunia pendidikan. Jika saja mereka sudah melakukan pembandingan secara mendalam kedua kurikulum tersebut, niscaya mereka akan mengatakan bahwa Kurikulum 2004 dengan Kurikulum 2006 berbeda secara nyata, secara signifikan. Memang harus diakui dalam beberapa hal ada kesamaan atau kemiripan antara keduanya.

Berikut ini saya rangkum perbedaan dan persamaan antara Kurikulum 2004 dan Kurikulum 2006 (periksa tabel)

ASPEK

KURIKULUM 2004

KURIKULUM 2006

1. Landasan Hukum

Tap MPR/GBHNTahun 1999-2004

UU No. 20/1999 – Pemerintah-an Daerah

UU Sisdiknas No 2/1989 kemudian diganti dengan UU No. 20/2003

PP No. 25 Tahun 2000tentang pembagian kewenangan

UU No. 20/2003 – Sisdiknas

PP No. 19/2005 – SPN

Permendiknas No. 22/2006 – Standar Isi

Permendiknas No. 23/2006 – Standar Kompetensi Lulusan

2. Implementasi/

Pelaksanaan

Kurikulum

Bukan dengan Keputusan/ Peraturan Mendiknas RI

Keputusan Dirjen Dikdasmen No.399a/C.C2/Kep/DS/2004 Tahun 2004.

Keputusan DirekturDikme-num No. 766a/C4/MN/2003 Tahun 2003, dan No.1247a/ C4/MN/2003 Tahun 2003.

Peraturan Mendiknas RI No. 24/2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri No. 22 tentang SI dan No. 23 tentang SKL

3. IdeologiPendidik-

an yang Dianut

Liberalisme Pendidikan: terciptanya SDM yang cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif

Liberalisme Pendidikan: terciptanya SDM yang cerdas, kompeten, profesional dan kompetitif

4.Sifat (1)

Cenderung Sentralisme Pendidikan : Kurikulum disusun oleh Tim Pusat secara rinci; Daerah/Sekolah hanya melaksanakan

Cenderung Desentralisme Pendidikan : Kerangka Dasar Kurikulum disusun oleh Tim Pusat; Daerahdan Sekolah dapat mengembangkan lebih lanjut.

5. Sifat (2)

Kurikulum disusun rinci oleh Tim Pusat (DitjenDikmenum/ Dikmenjur dan Puskur)

Kurikulum merupakan kerangka dasar oleh Tim BSNP

6.Pendekatan

Berbasis Kompetensi

Terdiri atas : SK, KD, MP dan Indikator Pencapaian

Berbasis Kompetensi

Hanya terdiri atas : SK dan KD. Komponen lain dikembangkan oleh guru

7.Struktur

Berubahan relatif banyak dibandingkan kurikulum sebelumnya (1994 suplemen 1999)

Ada perubahan nama mata pelajaran

Ada penambahan mata pelajaran (TIK) atau penggabungan mata pelajaran (KN dan PS di SD)

Penambahan mata pelajaran untuk Mulok danPengem-bangan diri untuk semua jenjang sekolah

Ada pengurangan mata pelajaran (Misal TIK di SD)

Ada perubahan nama mata pelajaran

KN dan IPS di SD dipisah lagi

Ada perubahan jumlah jam pelajaran setiap mata pelajaran

8.Beban Belajar

Jumlah Jam/minggu :

SD/MI = 26-32/minggu

SMP/MTs = 32/minggu

SMA/SMK = 38-39/minggu

Lama belajar per 1 JP:

SD= 35 menit

SMP = 40 menit

SMA/MA = 45 menit

Jumlah Jam/minggu :

SD/MI 1-3 = 27/minggu

SD/MI 4-6 = 32/minggu

SMP/MTs = 32/minggu

SMA/MA= 38-39/minggu

Lama belajar per 1 JP:

SD/MI= 35 menit

SMP/MTs = 40 menit

SMA/MA = 45 menit

9.Pengembangan

Kurikulum lebih

lanjut

Hanya sekolah yang mampu dan memenuhi syarat dapat mengembangkan KTSP.

Guru membuat silabus atas dasar Kurikulum Nasional dan RP/Skenario Pembelajaran

Semua sekolah /satuan pendidikan wajib membuat KTSP.

Silabus merupakan bagian tidak terpisahkan dari KTSP

Guru harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

10. Prinsip

Pengembangan

Kurikulum

Keimanan, Budi Pekerti Luhur, dan Nilai-nilai Budaya

Penguatan Integritas Nasional

Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika

Kesamaan Memperoleh Kesempatan

Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi

Pengembangan Kecakapan Hidup

Belajar Sepanjang Hayat

Berpusat pada Anak

Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan

Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya

Beragam dan terpadu

Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni

Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Menyeluruh dan berkesinam-bungan

Belajar sepanjang hayat

Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

11. Prinsip

Pelaksanaan

Kurikulum

Tidak terdapat prinsip pelaksanaan kurikulum

Didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.

Menegakkan lima pilar belajar:

belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,

belajar untuk memahami dan menghayati,

belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain,

belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembela-jaran yang efektif, aktif, kreatif & menyenangkan.

3.Memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan perbaik-an, pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisinya dengan memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

Dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling meneri-ma dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan prinsiptut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada

5. Menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan meman-faatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

6. Mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

7. Diselenggarakan dalam kese-imbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.

12. Pedoman

Pelaksanaan

Kurikulum

Bahasa Pengantar

Intrakurikuler

Ekstrakurikuler

Remedial, pengayaan, akselerasi

Bimbingan & Konseling

Nilai-nilai Pancasila

Budi Pekerti

Tenaga Kependidikan

Sumber dan Sarana Belajar

Tahap Pelaksanaan

Pengembangan Silabus

Pengelolaan Kurikulum

Tidak terdapat pedoman pelaksanaankurikulum seperti pada Kurikulum 2004.

Untuk sementara baru 12 aspek yang saya temukan, dimanahanya 2 (dua) hal saja yang sama, yakni landasan ideologis dan pendekatan yang digunakan. Sementara 10 aspek lainnya berbeda sangat nyata, meskipun ada kemiripan pada butir-butir tertentu.

Rabu, 15 April 2009

perbedaan dalam Metode Pembelajaran

Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan SD

1. Strategi pembelajaran adalah suatu prosedur yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran sebagai sarana mencapai tujuan.

2. Metode Pembelajaran adalah cara yang dugunakan guru untuk mengolah informasi yang mungkin terjadi dalam suatu strategi.

3. Kelebihan metode diskusi

- Dapat memperluas wawasan siswa.

- Dapat merangsang kreativitas siswa dalam memunculkan ide dalam memecahkan masalah.

- Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.

- Menumbuhkan partisipasi siswa menjadi lebih aktif.

Kelemahan metode diskusi

- Tidak dapat digunakan pada kelompok besar.

- Peserta mendapatkan informasi yang terbatas.

- Menyerap waktu yang cukup banyak.

- Tidak semua guru memahami cara siswa melakukan diskusi.

4. Kelebihan metode karya wisata

- Menerapkan pembelajaran yang nyata.

- Dapat merangsang kreativitas siswa

- Mendorong siswa belajar secara konferhensif da integral

- Memilii prinsip belajar yang modern

- Dapat merangsang siswa untuk menjawab semua tugas guru dengan data atau peristiwa secara langsung.

Kekurangan metode karya wisata

- Memerlukan persiapan yang matang.

- Cenderung mengutamakan rekreasi dari pada karyanya.

- Jka siswanya banyak maka akan sulit untuk mengaturnya.

- Membutuhkan dana yang cukup besar.

- Jika obyek kurang maka dapat membingungkan siswa.

5. Metode sosio drama (role playing)adalah suatu cara mendramasisasi tingkah laku dalam hubungan sosial dengan problem agar peserta didik dapat memcahkan masalah sosial

Metode Problem Solving adalah suatu metode berfikir dan memecahkan masalah. Dalam hal ini siswa dihadapkan pada suatu masalah. Kemudia diminta untuk memecahkan masalah.

Metode laboratorium adalah suatu metode yang mengkaitka teori dengan pengalaman. Metode ini

mungkin digunakan untuk menyelidiki berbagai hal termasuk tingkah laku siswa

A. Membiasakan hidup Gotong Royong

1. Model yang dipilih adalah Induktif

2. Metode pembelajaran adalah tanya jawab, ceramah dan pemberian tugas.

3. Langkah yang ditempuh :

- Guru menjelaskan tentang arti gotong royong.

- Guru menceritakan kisah gotong royong isalnya membersihkan rumah, dll.

- Siswa diminta melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan kelas.

- Guru meminta siswa menjelaskan akibat jikatidak gotong royong

- Guru menegaskan pentingnya hidup gotong royong.

4. Media pembelajaran misalkan gambar kegiatan gotong royong di suatu desa/ kota.

5. Penilaiannya adalah penilaian proses dengan skala sikap, bisa juga taya jawab dan tes pada lembar kerja siswa

B. Peran politik luar negeri Indonesia pada era globalisasi

1. Model bisa mengggunkana simulasi

2. Metodenya bisa ceramah, tugas, tanya jawab dan bermain peran

3. Langkah yangditempuh :

- Siswa menonton video yang erkait dengan materi

- Guru menjelaskna peran politik Indonesia di luarnegeri pada masa Globalisasi

- Guru meminta siswa berdiskusi tentang salah saru peran Indonesia dalam Politik luar negeri di era globalisasi. Contohnya dalan Pengiriman pasukan perdamaian di lebanon, pakistan, Iraq, dll.

- Guru kembali menegaskan pentingnya politik luar negeri Indonesai

- Guru memberikan tugas kepada siswa misalnya membuat keliping tentang perana politik luar negeri Indonesia.

4. Media pembelajarannnya misalkan video tentang peranpolitik luar negeri Indonesia pada era globalisasi

5. Penilaian bisa melakukan penilaian proses meliputi tes lisan, portofolio. Penilaian hasil meliputi tel tulis dan penugasan